Kereta

                                    
















Selama jalanku dalam kebaikan, aku tidak akan pernah tersesat.

     Tapi memang saat lelah, aku hanya mengikuti kemana saja kereta ini membawaku. Sesekali aku melihat jalan orang lain, terlihat sangat cepat dan orang didalamnya begitu santai menikmati alurnya. Sepertinya terlalu mujur dan membahagiakan. Aku melihat kepada diriku sendiri. Di kereta ini "ah, biasa saja”. 

    Aku bertemu dengan banyak orang di stasiun. Aku menyukai keramaian, seperti energiku kembali terisi. Bercengkrama dengan mereka orang-orang baik, menyenangkan sekali! Aku selalu mendapatkan hadiah dari setiap mereka untuk kugunakan di perjalanan selanjutnya katanya. Itu sangat membantuku. Dan tentu saja, aku juga sering bertemu dengan mereka orang-orang menyebalkan itu. Mereka melempariku dengan sampah bahkan luka. But i'm okay, aku selalu berhasil membersihkan dan menyembuhkan diriku sendiri meski kadang bekas luka itu tetap ada bersamaku.

    Baru saja kuselesaikan tugasku kali ini, dan kembali ke stasiun. Tentu saja, keretaku masih disana menungguku dan seperti biasa orang-orang di kereta-ku akan selalu menyambutku dengan bangga karena tugasku disini telah rampung. Kali ini aku membawa banyak oleh-oleh yang akan kugunakan sebagai bekal untuk pemberhentian-pemberhentian berikutnya. Aku tidak selalu membawa banyak, terkadang aku hanya membawa sedikit. Sebelum bergegas kembali aku harus membersihkan diriku agar tak ada sebuah kotor yang terbawa.

    Disetiap perjalanan aku bertemu dan berpisah dengan orang-orang. Beberapa orang memiliki tujuan yang sama denganku dan memutuskan untuk pergi bersamaku. Tapi terkadang beberapa orang berubah pikiran karena banyak hal. Kami berpisah di pemberhentian selanjutnya. Lalu kutemukan orang baru lagi yang memiliki tujuan yang sama denganku. Beberapa dari mereka menetap, beberapa juga pergi meninggalkanku. Seperti itu dan akan selalu. Dan semakin dewasa, orang-orang yang ikut denganku makin terseleksi dan makin sedikit. Aku menyadari beberapa hal, sejatinya kita memang sendirian. Orang-orang itu hanya akan menemani sesaat. Jangan menggantungkan kebahagiaan pada mereka. Kita tidak bisa memaksa oranglain untuk tinggal. Merekalah yang akan memilih untuk tinggal atau meninggalkan.  Orang-orang hanya sebatas numpang lewat. Perjalanan  tidak berakhir hanya karena mereka tak membersamai. Tetaplah berjalan kereta-kita!

Pertemuan dan perpisahan itu menjadi salah satu penyumbang cinta dan luka. Dan, aku salah menilai 'kereta-ku' tidak istimewa. Ia sempurna, karena ia memiliki banyak cinta dan luka. Tidak ada yang benar-benar baik ataupun buruk, bagiku semua itu adalah keseimbangan. Yang mengingatkan bahwa kita hanya manusia. Kita memerlukan cinta dan luka untuk tumbuh dan tangguh dari segala badai. Segala yang mengucap temu, pada akhirnya akan berucap pisah. Dan kita akan kembali berdiri sendiri, semoga dengan bahu yang lebih kuat.


By : Foxeye