FOXIE JOURNAL

 EDISI 30/06/22



Di usia 22 tahun, saya memutuskan untuk  tidak makan daging. Saya hanya memakan masakan plant-based saja. No eggs no milk. Jujur saja, membuat keputusan lebih mudah daripada membuatnya konsisten. Seminggu pertama benar-benar berat sekali mempertahankan konsisten. Apalagi didepan mata tersuguhkan rendang daging buatan ibu saya. Adduh, Tapi saya tetap dengan pendirian, apapun keputusan yang saya buat harus saya pertanggungjawabkan dengan baik. 

Kembali mengoreksi diri sendiri, saya menganalisa ‘mengapa saya merasa ini adalah hal yang berat?’

Dan saya menemukan sesuatu, mungkin yang perlu saya benahi adalah cara berpikir saya. Selama ini saya berpikir seperti ini, “saya harus makan sayur karena saya tidak boleh makan daging (karena alasan tertentu)”. Cara berpikir seperti itu yang membuat saya berat melakukannya, yang membuat saya terus terfokus pada “kenapa sih kok nggak boleh? Aku juga mau kayak yang lain”. Narasi-narasi negatif dan penolakan-penolakan dikepala muncul karena cara pikir itu. 

Kemudian saya mengubah cara pikir menjadi “Aku adalah vegan”. 3 kata itu sangat berhasil mengubah persepsi saya tentang makanan sayur. Dengan berpikir saya adalah seorang vegan, saya tidak terlalu berat hati untuk menolak makan daging karena itulah hal yang dilakukan oleh seorang vegan. Saya mengikuti cara berpikir vegan untuk menikmatinya. Saya selalu berpikir “apa yang akan dilakukan seorang vegan jika begini atau begitu?”. Dengan mengubah cara berpikir saya tentang identitas sebagai vegan, saya mulai menikmati setiap makanan sayur saya. Dan dari sini saya memahami bahwa, untuk membuat sesuatu lebih mudah kita hanya perlu mengubah sistem, yang kemudian akan mengubah identitas kita, yakni keyakinan kita terhadap diri sendiri.