Rubah Musim Dingin



     Mantel bulunya mulai berubah warna, tanda musim dingin segera jumpa. Rubah itu sangat menyukai musim dingin. Sebab saat musim dingin, ia tak perlu banyak tenaga untuk menghindari predator karena seluruh bulunya akan menjadi putih bersatu dengan lembutnya salju yang memudahkan ia untuk bersembunyi. Tentu saja mereka adalah serigala dan beruang. Si rakus dan si kuat itu  tidak lebih licik dari si rubah. Ia sering mengakali mereka demi terhindar dari serangan. Berkali-kali mereka menderita karena tipu muslihat rubah "Si dungu itu siapa suruh mereka mengganggu tidurku." umpatan pelan si rubah tiap ia berhasil mengelabui serigala dan beruang.

    Salju mulai turun menutupi rumput dan daun-daun, disaat seperti ini ia senang untuk  berjalan sendirian  melalui perbukitan bersalju. Langkah demi langkah, bulu putihnya menyentuh salju, ia menciptakan percikan ajaib dan membakar langit. Seketika langit berubah menjadi biru-hijau yang mengular. Api di matanya mensugesti semua mata untuk tertuju padanya. Orang-orang diseberang merasa kegirangan melihat fenomena yang diciptakan oleh si rubah. Orang-orang menyebut ia sebagai "revontulet"  yang berarti "rubah-api".

    Semua yang memandang berpikir bahwa itu adalah hal yang mudah saja untuk dilakukan oleh si rubah. Dan sebenarnya, tak semudah itu. Ia harus kehilangan banyak bulu untuk menciptakan borealis yang sesaat. Orang-orang hanya terfokus pada indahnya langit saat itu, tanpa ada yang menyadari si rubah butuh lebih banyak bulu sekarang, atau setidaknya sebuah pelukan untuk menghangatkan. 

    Si rubah kembali menuruni bukit, ia sungguh kedinginan kali ini. Berharap setidaknya seorang saja datang menghampirinya. "aku telah menciptakan borealis dan membuat semua orang senang. sepertinya beberapa orang akan datang padaku. Ya! mereka pasti datang!". Si rubah menunggu, dan masih menunggu seseorang akan datang untuk menawarkan.   Ternyata tidak ada yang datang. Ia mulai berpikir bahwa berharap adalah perbuatan sia-sia. Ia mulai bergegas mencari daun atau apapun yang bisa menghangatkannya. 

    "ah! sial. aku tidak hanya kedinginan tapi juga lapar kali ini". Ia meliar, memangsa daging apapun yang bisa dimakan. Sudah 13 tubuh ia makan sekaligus, tapi masih kelaparan. Sudah mantel sangat tebal yang ia pakai, tapi masih kedinginan. Ia mengernyitkan dahinya, ia menyadari sesuatu bahwa ia sebenarnya tidak lapar. Ia hanya harus merasa cukup.
Si Rubah tidak perlu menemukan seseorang untuk menyudahi kedinginan dan kerakusannya, ia hanya harus menemukan dirinya.


By : Foxeye 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar